Articles by "Tips Dan Trik"

04:53
Cara Menulis Surat Lamaran KerjaKetika Anda sedang mencari pekerjaan, tentu saja yang perlu anda buat ketika melamar kerja adalah menulis surat lamaran kerja. Menulis Surat lamaran kerja merupakan poin penting yang menentukan apakah Anda diterima kerja pada tempat yang Anda lamar atau tidak. Anda tentu harus mempromosikan diri Anda dengan baik dan benar sesuai dengan diri Anda.
Anda tentu harus menulis surat lamaran kerja dengan baik agar kemungkinan diterima di perusahaan yang Anda inginkan semakin besar. Hal ini dikarenakan begitu banyak orang yang memerlukan pekerjaan namun lapangan kerja yang tersedia tidak memadai. Sehingga untuk memasuki perusahaan yang Anda inginkan bisa saja menjadi susah karena persaingan yang ketat.

Berikut Cara menulis surat lamaran kerja supaya peluang Anda diterima semakin besar.

  • Baca dengan baik persyaratan yang dibutuhkan dalam lowongan pekerjaan tersebut. Hal ini dibutuhkan agar isi surat lowongan pekerjaan Anda tidak keluar dari konteks.
  • Tulislah surat lamaran kerja dengan kata yang merupakan bahasa baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.
  • Gunakanlah kata-kata yang mudah dipahami, singkat, padat, jelas, sopan, dan menarik.
  •  Tujuan surat harus jelas. Nama yang dituju harus Anda pastikan benar ejaan namanya, gelar, dan jabatan, begitu pula dengan alamat perusahaan.
  • Setelah Anda selesai menulis surat lamaran kerja. Baca sekali lagi, pastikan tidak ada salah ketik. Menggunakan tata bahasa yang baik dan benar, serta tidak ada kata yang sering diulang-ulang.
  •  Baik surat lamaran kerja yang ditulis tangan maupun diketik, pastikan kertas yang Anda pakai bersih. Tidak ada kotoran, bekas terlipat, bekas dihapus, bekas tip-ex, atau kotoran apapun itu.
  • Jika Anda menulis surat lamaran kerja dengan tulisan tangan, pastikan tulisan Anda dapat terbaca. Hindari menggunakan tulisan tegak bersambung. Alasi tangan Anda menggunakan tisu ketika menulis agar kertas tidak kotor maupun tiba-tiba terlipat.


Setelah Anda mengetahui tips-tips cara menulis surat lamaran kerja agar peluang diterima lebih besar, simak cara menulis surat lamaran kerja di bawah ini.

Cara menulis surat lamaran kerja

Umumnya cara menulis surat lamaran kerja untuk diajukan kemanapun sama saja isinya. Baik cara membuat surat lamaran kerja online, cara membuat surat lamaran kerja di bank, maupun cara membuat surat lamaran pekerjaan di perusahaan

 Langkah-langkah membuat surat lamaran kerja :


1. Tempat dan tanggal penulisan surat.

2. Kepada Yth. nama orang beserta gelar dan jabatannya atau perusahaan yang dituju. Alamat lengkap perusahaan.

3. Salam hormat

4. Kata pengantar / pembukaan 

Dalam kata pengantar atau pembuka dalam surat lamaran kerja wajib Anda cantumkan di mana Anda mendapatkan informasi mengenai lowongan kerja yang dibuka pada perusahaan yang Anda tuju. Baik dari surat kabar maupun internet, atau teman Anda.
Sebutkan posisi jabatan pekerjaan yang Anda pilih jika dalam perusahaan tersebut membutuhkan banyak sekali karyawan baru.

5. Biodata pribadi

Tuliskan nama lengkap Anda, tempat dan tanggal lahir, alamat lengkap, nomor telepon atau nomor handphone, E-Mail, Pendidikan (tidak wajib)

Jika Anda ingin menulis latar belakang pendidikan Anda, tulis saja latar belakang pendidikan tertinggi Anda.

6. Pengalaman kerja dan kemampuan Anda

Jika sebelumnya Anda pernah bekerja, tulisan pekerjaan Anda sebelumnya. Jika belum pernah bekerja (fresh-graduate) tidak usah. Tulis juga kemampuan Anda yang sekiranya dibutuhkan dalam perusahaan tersebut.

7. Penutup

Dalam penutup ini tulislah untuk pembaca Anda bahwa Anda mempunyai keinginan kuat agar diterima di perusahaan tersebut. Jangan lupa mengucapkan “Terima kasih”.

8. Lampiran surat lamaran kerja

Agar perusahaan yang Anda tuju semakin yakin untuk menerima Anda, lampirkan juga hal-hal yang dapat menambah nilai Anda. Hal yang sebaiknya ada sebagai lampiran adalah :

   ~ Pas foto (foto terbaru)

   ~ Fotokopi KTP

   ~ Daftar riwayat hidup

   ~ Fotokopi ijazah terakhir

   ~ Fotokopi sertifikat kompetensi (kursus atau pelatihan yang pernah Anda ikuti)

   ~ Hormat saya, (Tanda tangan dan nama lengkap Anda)

Setelah Anda mengetahui cara membuat surat lamaran pekerjaan, Anda bisa melihat contoh-contoh surat lamaran pekerjaan di bawah ini.

Cara Menulis Surat Lamaran Kerja


Demikian artikel tentang Cara menulis Surat Lamaran Kerja. semoga bermanfaat..

Ciri-Ciri Suami Selingkuh Dan Cara Menghadapinya

Ciri-ciri Suami Selingkuh Dan Cara Menghadapinya sangat penting anda ketahui. Di jaman sekarang ini sangat banyak sekali terjadi Perselingkuhan, awal menikah dahulu janji suci selalu terucap, tapi dengan seiring berjalannya waktu banyak suami yang tidak tahan godaan dengan wanita lain dan terjadilah Perselingkuhan.

Sebenarnya tidak ada satupun wanita di dunia ini yang rela jika Suami Selingkuh Semua orang selalu berharap jika Keluarganya baik-baik saja selalu rukun dan hanya menikah satu kali seumur hidup. Banyak sekali perjuangan yang di lakukan untuk mempertahankan rumah tangga karena jika sampai terjadi perceraian korban pertamanya adalah anak-anak. Jangan pertaruhkan masa depan ank-anak anda dengan perceraian yang anda lakukan. Mari Kenali Ciri-ciri Suami Selingkuh sebelum terlambat dan sebelum Suami Selingkuh terlalu jauh:



Ciri-ciri Suami Selingkuh Dan Cara Menghadapinya

  • ciri-ciri Suami Slingkuh

1. Perubahan Sikap

- Perubahan Sikap Menjadai Sangat Baik
Perubahan Sikap yang terjadi pada Suami perlu di curigai, apabila biasanya Suami sikapnya biasa-biasa saja atau sangat cuek tapi tiba-tiba berubah menjadi sanggat baik dan perhatian terlalalu berlebihan ini perlu di waspadai. Karena bisa saja Suami Selingkuh dan menutupi kesalahanya dengan memperlakukan anda dengan sanggat baik agar anda pun tidak mencurigainya.

-Perubahan Sikap Menjadi Sangat Buruk
Perubahan Sikap Suami Yang Menjadi sanggat buruk bisa juga menandakan jika dia Selingkuh. Biasanya jika di rumah Suami selalu marah-marah dan mempermasalahkan hal-hal kecil dengan anda, menurut sang Suami anda selalu salah daalam segala hal.



2. HP Selalu Di Bawa Kemanapun Pergi

Biasanya HP selalu di taruh di atas meja tapi sekarang selalu dibawanya kemanapun perginya, sekalipun ke kamar mandi. Hal ini di lakukan suami anda agar anda tidak bisa melihat percakapan-percakapan antara suami anda dengan orang lain. Dalam hal ini anda perlu sanggat berhati-hati karena hal ini sangat menjurus ke Ciri-ciri suami Selingkuh. Untuk antisipasi anda sesekali juga harus mengecek HP suami anda untuk mengtahui percakapan apa saja dan dengan siapa saja suami anda berhubungan sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.


3. Banyak Menghabisakan Waktu Di Luar Rumah

Apakah Suami anda sekarang sering keluar rumah selain masalah pekerjaan? Padahal biasanya hari libur menghabiskan waktu di rumah bersama anda dan anak-anak anda tapi skarang jika hari libur Suami anda selalu pergi dengan alasan yang tidak begitu jelas. Hal ini bisa jadi Suami anda bertemu dengan wanita lain. Cobalah anda minta kepada Suami anda untuk ikut pergi dengannya jika Suami anda tidak memperbolehkan hal ini memungkinkan Suami Selingkuh.


4. Perubahan Di Tempat Tidur

Ada dua kemungkin Perubahan Di Tempat Tidur yaitu Suami anda sangat bergairah dengan urusan tempat tidur atau malah tidak sama sekali. Jika Suami anda sanggat bergairah di tempat tidur lebih dari biasanya bisa jadi Suami anda merasa bersalah karena telah melakukan Perselingkuhan dengan wanita lain.
Jika sebaliknya Suami anda tidak pernah memberi nafkah batin kepada anda hal ini memungkinkan jika Suami anda telah nyaman melakukan hubungan intim dengan wanita lain, hal ini menunjukkan jika Suami Selingkuh.


5. Selalu Menjauh Saat Terima Telpon

Biasanya terima telfon tidak menjauh dari anda tapi kini tiap HP bunyi telfon Suami selalu mengangkat dan menjauh dari anda. Saat telfon pun suaranya sengaja di pelankan agar anda tidak mendengarnya.


6. Menelpon Berjam-jam

Apakah mungkin jika Suami tidak Selingkuh jika sering nelfon dengan wanita hingga berjam-jam lamanya? Hal ini perlu anda waspadai karena hal seperti ini menunjukkan jika Suami Selingkuh.


7. Berpenampilan Lebih Menarik

Berpenampilan Lebih Menarik dan suka merawat diri ini jugga Ciri-ciri Suami Selingkuh. Jika dulunya perutnya buncit tapi sekarang berusaha merawat bentuk tubuh agar lebih menraik. Lebih sering ke salon merapikan rambut dan mencukur kumis, hal ini karena Suami ingin kelihtan lebih menarik di depan selingkuhannya.


8. Selalu Menghapus chat

Jika mendapat chat selalu buru-buru di hapus atau jka alat komunikasinya di chek percakapannya selalu kosong. Karena biasanya perselingkuhan itu bermula dari menghapus chat.


9. Pengeluaran Yang Berlebihan

Pengeluaran Yang Berlebihan tetapi pengeluaran tidak untuk istri atau anak-anaknya, pengeluaran yang tidak jelas kemana arahnya. Hal ini bisa jadi untuk membelanjakan Selingkuhan Suami atau mentraktir Selingkuhan Suami.


10. Menghindari Anda

Jika ada kesempatan waktu berdua dengan anda Suami malah menghindar, Suami anda selalu menjaga jarak dari anda. Tetapi Suami anda malah asyik dengan HP atau laptopnya. Hati-hati dengan hal ini karena hal ini menuju ke Perselingkuhan.


11. Mendapat Kabar Burung

Terkadaang teman atau tetangga anda mengatakan kepada anda jika dia melihat Suami anda sedang membonceng orang lain atau melihat Suami anda bersama wanita lain di suatu tempat. Dengan hal ini anda jangan terlalu percaya dahulu dengan omongan orang lain bisa jadi wanita itu rekan kerjanya atau temannya. Tapi anda juga jangan menutup mata dan telinga anda, anda harus mencari kebenarannya, apakah Suami Selingkuh atau tidak.

Baca Juga: 

Itulah tadi Ciri-ciri Suami Selingkuh,  dengan mempelajari  beberapa Ciri-ciri di atas tadi anda harus siap Menghadapinya. Dan ini Cara Menghadapinya:

  • Cara Menghadapi Suami Selingkuh 


1. Pastikan Kebenarannya
Pastikan Dahulu Kebenarannya jangan sampai anda menuduh Suami Selingkuh tanpa bukti yang kuat. Memang sangat susah untuk memastikan kebenarannya tentang Suami anda Selingkuh atau tidak, karena pastinya Suami anda selalu menutup rapat hubungannya dengan wanita Selingkuhannya. Dan jangan sampai anda salah mengambil keputusan.

2. Bersikap Tegas
Jika anda sudah memastikan kebenarany tentang Suami anda dan ternyata masuk dalam Ciri-ciri suami selingkuh anda harus bersikap tegas. Dengan anda bersikap tegas mungkin Suami anda jika ingin berselingkuh lagi akan lebih mempertimbangkaknnya lagi.

3. Mintalah Agar Tidak Mengulanginya Lagi
Bicarakan dengan baik-baik dengan suami anda diskusikan permaslahan  dengan kepala dingin jangan sampai terbawa emosi dan marah-marah terhadap suami anda, mintalah kepada Suami anda agar tidak tidak mengulangi perbuatannya lagi. Berikan pengertian kepada suami anda tentang perasaan anda sebenarnya .

4. Tanyakan Apa Penyebab Suami Anda Selingkuh?
Menanyakan kepada Suami anda apa Penyebab Suami anda Selingkuh, mungkin hal ini akan sedikit membantu anda Cara Menghadapi Suami Selingkuh . Karena dengan anda menanyakannya anda akan tau penyebabnya, bisa jadi Suami Selingkuh karena ada yang tidak menyenangkan dari anda dan anda bisa memperbaikinya.

5. Jangan Terlalu Cepat Mengambil Keputusan
Cara Menghadapi Suami Selingkuh Jangan Terlalu Cepat Mengambil Keputusan, anda jan buru-buru meminta bercerai fikirkanlah dahulu apakah anda sudah siap bercerai dengan suami anda? Jika anda belum siap bercerai dengn suami anda maka carilah solusi agar keluarga anda kembali normal lagi walapuan hati anda sudah terluka. Karen jika perceraian terjadi korban pertamanya adalah anak-anak, jadi jangan terburu-buru mengambil keputusan sebelum menyesal nantinya.

6. Tanya Apa Maunya?
Tanyakan kepada Suami anda Apa Maunya, jika anda tau apa mau suami anda dan anda bisa melakukannya  mungkin Suami anda akan berhenti berselingkuh lagi.

7. Berpenampilan Semenarik Mungkin
Jagalah penampilan anda Berpenampilan Semenarik Mungkin di depan Suami anda agar Suami anda menyadari jika istrinya itu cantik dan menarik. Jangan sampai anda melupakan penampilan anda karena jika anda menarik mungkin suami anda akan betah di rumah lagi.

8. Pisah Rumah
Ada baiknya jika Menghadapi Suami Selingkuh dengan berpisah rumah sementara waktu. Dengan melakukan Pisah Rumah anda ataupun Suami anda bisa berintrospeksi dulu, anda dan Suami anda bisa mengingat hal salah apa yang pernah di lakukan dan mungkin stelah Pisah Rumah bisa meperbaikinya. Pisah Rumah dengan Suami anda juga bisa membuat Suami anda berfikir dan merasakan bagaimana jika hidup sendiri tanpa seorang istri pasti tidak menyenagkan sekali.

9. Bercerai
Keputusan terahir dalam Menghadapi Suami Selingkuh yaitu Bercerai, memang sebenarnya dalam agamapun perceraian itu tidak di benarkan akan tetapi jika anda sudah benar-benar tidak kuat dengan Perselingkuhan yang Suami anda lakukan anda bisa meminta untuk bercerai. Akan tetapi anda juga harus bisa menerima dan siap akan segala resiko dengan adanya perceraian.

10. Membuka Hati
Yang terakhir yaitu membuka hati untuk lelaki lain, jika anda sudah bercerai dengan Suami anda tapi anda belum bisa melupakannya maka Bukalah Hati anda untuk orang lain. Dengan cara ini anda bisa berangsur-angsur memperbaiki perasaan anda yang telah hancur. Karena obatnya orang yang patah hati yaitu dengan jatuh cinta lagi.
Perselingkuhan memang sering terjadi, ada dua hal yang membedakan perselingkuhan yaitu Selingkuh Karena Terbiasa Dan Selingkuh Karena Keadaan. Memang tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau di Selingkuhi oleh pasanggannya  akan tetapi takdir atau apa yang memaksakan harus siap menghadapi hal ini.



Semogga saja kita di jauhkan dari Perselingkuhan dan mudah-mudahan keluarga kita selalu dilindungi dari hal-hal yang buruk. Demikian artikel Ciri-ciri Suami Selingkuh Dan Cara Menghadapinya dari saya, semogga bermanfaat dan bisa membantu anda. 

What?? emang bisa Blog Kita Jadi Paling Utama Di Pencarian Google? Tenang, Tentu saja bisa gan blog kita jadi paling utama,

Cara Supaya Blog Muncul Di Pencarian Google bagaimana?? Jangan khawatir, semua caranya pasti ada di Trik Dan Tips Jitu .

Kemarin-kemarin Saya posting terus tentang Artikel Pendidikan. Jadi saya rasa biar tidak mudah bosan membaca artikel blog ini saya sekali-sekali berbagi pengalaman blog lah, hehe

Tunggu apa lagi? Ayo buruan kita beraksi. Yaelaaah, yang pasti ya tunggu Coretan Trik Supaya Blog Kita Jadi Paling Utama Di Pencarian Google
Oke kawan , ada beberapa caranya sebagai berikut:

Pertama kita harus tau Cara Memasang Keyword Blog . Jika anda belum paham tentang keyword silahkan baca dulu .

Cara kedua kita pelajari tentang SEO terlebih dahulu. Belajar Seo Blog

Dengan cara cara di atas insyaaloh apa yg jadi keinginan kamu bisa terwujud hanya dengan menggunakan Trik Dan Tips Jitu

Demikian sebuah Coretan Trik Supaya Blog Kita Jadi Paling Utama Di Pencarian Google . Semoga bermanfaat..

Cara Membuat Majalah Dinding Atau Mading

   Bagi yang belum tau Apa itu majalah dinding?? Majalah dinding yang sering kita sebut dengan istilah mading majalah yang dikelola secara sederhana oleh suatu lembaga. Biasanya oleh sekolah-sekolah dari tingkatan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Namun demikian tidak menutup kemungkinan, mading pun bisa dibuat dan dipajang pula oleh kantor-kantor pemerintahan, seperti kantor balai desa, kantor kecamatan, kantor bupati, dan lain sebagainya. Majalah dinding juga bisa kita pajang di tempat-tempat umum, seperti di terminal, stasiun kereta, halte, dan tempat umum yang lain.

Ada beberapa hal yang perlu dikuasai untuk bisa menciptakan majalah dinding di sekolah kita.

Cara Membuat Majalah Dinding :


Pertama, Karakteristik Mading Majalah dinding, baik itu yang dikelola oleh sekolah maupun lembaga lain rata-rata memiliki karakter yang amat sederhana. Dikatakan sederhana, karena bentuk penampilannya lembaran, tidak berbentuk buku/majalah sebagaimana yang biasa kita kenal. Mading memiliki karakter mudah dibaca sambil berdiri. Untuk membaca majalah ini juga tidak dibutuhkan waktu terlalu lama. Mading bisa dibaca sepintas. Bisa dibaca dengan jarak lebih 30 cm dari mata kita. Mading merupakan majalah berbentuk hiasan – tulisan dan gambar- yang dipajang di dinding, yang tidak memiliki banyak kolom atau ruangan.

Kedua, Kolom atau Ruang pada Mading Dengan kesederhanaannya, agar tetap menarik perhatian pembaca, mading dihadirkan dengan bentuk kolom-kolom tertentu. Misal; perwajahan mading (cover), ditampilkan dengan nama yang cukup memikat. Nama ditulis dengan bentuk huruf yang mudah dibaca. Usahakan cover majalah ditulis pada warna dasar yang menarik, sehingga baru saja melirik nama madingnya saja, pembaca sudah merasa terpikat untuk terus menikmati tulisan-tulisan yang disuguhkan sampai selesai. Selain cover, wajah mading ini perlu dipetak-petak lagi menjadi beberapa kolom. Antara lain; kolom pengelola, kolom pengantar redaksi, kolom daftar isi, kolom artikel, kolom berita, kolom puisi, kolom cerita, kolom karikatur, kolom lukisan, dan kolom-kolom yang lain.

Ketiga, Sumber Tulisan Agar kehadirannya bisa memikat pembaca, terutama anak-anak yang cinta membaca, majalah dinding harus diisi dengan tulisan-tulisan segar. Tulisan hangat yang tengah menjadi perbincangan banyak orang. Jangan menghadirkan berita atau tulisan yang sudah biasa didengar banyak pembaca! Ini jika mading kita ingin dikatakan greeess! Untuk bisa mengisi semua ruang yang ada di mading, hendaknya kolom demi kolom harus diisi dengan tulisan-tulisan tertentu. Pengatar redaksi, diisi oleh pengelola majalah, biasanya guru pembimbing. Kolom berita, bisa diisi oleh guru atau anak-anak (wartawan sekolah) dengan liputan berita kegiatan di sekolahnya. Kolom cerpen, diisi oleh anak-anak yang suka pada tulisan tersebut. Demikian pula dengan kolom puisi dan kolom-kolom yang lain. Mengingat majalah dinding sebagai media latihan menulis bagi anak-anak, maka usahakan semua tulisan bersumber dari hasil karya tulis anak sendiri. Bukan jiplakan atau guntingan dari majalah atau koran sungguhan.

Keempat, Kepala Berita Setelah semua kolom yang tersedia di majalah dinding terisi tulisan, sebagai guru pembimbing kita haruslah bisa segera menentukan judul berita (head line) yang menarik. Kita tentukan judul tulisan yang mudah dipahami oleh anak-anak. Judul berita sebisa mungkin merupakan rangkuman dari tulisan yang ada pada majalah dinding yang kali itu ditampilkan. Dengan demikian, setiap kali mading tampil, judul berita pun berbeda-beda.

Kelima, Perwajahan Perwajahan disebut juga tataletak atau lay out. Agar penampilan mading yang kita suguhkan kepada pembaca selalu tampak menarik, tentu saja perlu kita poles dengan wajah yang cantik. Kita tata kolom demi kolom sedemikian rupa, agar menghasilkan tataletak yang cukup memikat. Dengan wajah dan tatanan yang cantik ini diharapkan anak-anak tidak cepat merasa bosan untuk terus membacanya. Sehingga kehadiran majalah dinding kita tak sia-sia. Majalah dinding kita mendapat tanggapan baik dari pembaca (anak-anak), syukur darisesama guru.


Demikian Coretan yang membahas tentang Cara Membuat Majalah Dinding atau Cara Membuat Mading . Semoga coretan ini bermanfaat..

Sesuai nama blog Coretan Pelajar Artikel Pendidikan sekarang saya share beberapa Artikel Pendidikan yang mungkin di antara Pengunjung blog ini ada yang Membutuhkan..

Bagi anda yang membutuhkan Artikel Pendidikan tidak salah anda memasuki blog Coretan Pelajar Artikel Pendidikan,, Anda bisa baca terlebih dahulu artikel yang anda butuhkan lalu bisa download sekalian Artikel Pendidikan dari blog ini,

Mungkin agak sedikit susah kalian mencari Artikel Pendidikan yg saya postingkan sudah agak lama...

Berikut ini Artikel Pendidikan yang sudah saya posting kemaren:


1. Artikel Pendidikan

2. Sistem Pendidikan






Demikan dan masih banyak lagi tentunya Artikel Pendidikan yg tercoret pada Blog sederhana ini..
Semoga bermanfaat



Semoga Bermanfaat ya...

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan disini menyediakan berbagai macam artikel buat teman-teman semua. ya kalau masih banyak kesalahan dalam menulis ya mohon maaf aja karena saya juga masih belajar.
Saya membuat blog ini cuman daripada saya main coret-coret disembarang tempat lebih baik saya bikin Coretan disini aja siapa tau ada yang baca,, iya nggak....? hehehe


Oke langsung aja buat yang baca jika coretan saya di blog ini bermanfaat jangan lupa tinggalkan komentar ya..

Telusur:

1. Artikel Pendidikan

2. Tips Dan Trik

Tidak hanya dua kok,, telusuri aja Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

TERIMAKASIIHH.....

Assalamualaikum teman-teman Blogger nusantara.

Lama banget ya gue nggak possting di blogger, jadi agak sedikit gemeter gitu ngetiknya. Hehehe
Sedikit cerita.. Kemarin gue bisa melihat para blogger yang dari ibu kota pacitan, Kota kelahiranku pastinya, Kota kelahiran pak SBY juga lho. Hehe.
Lumayan ada sekitar 2000 blogger yg dari kota pacitan... Tp yg gue liat profilnya cuman yg cewe-cewe doang . (lagi jomblo nih) hahaha.

Oke kawan, Coretan Pelajar Artikel Pendidikan disini akan mengasih tau kpd temen-temen yg pengen cari temen blogger yang satu kota dgn kalian. Mungkin sudah banyak yg tau dan mungkin juga masih ada yang belum tau. Bagi yang sudah tau mungkin anda salah masuk jika anda buka postingan gue ini, hmmmmm
Oke kawan langsung saja caranya di baca serius dan di pahami ya..

Caranya masukan atau copy paste kode dibawah ini ke alamat browser sobat :

1. Mencari Teman Blogger se Indonesia :
http://www.blogger.com/profile-find.g?t=l&loc0=ID

2. Mencari Teman Blogger satu Propinsi :
http://www.blogger.com/profile-find.g?t=l&loc0=ID&loc1=Jawa+Timur

3. Mencari Teman Blogger satu Kota / kabupaten :
http://www.blogger.com/profile-find.g?t=l&loc0=ID&loc1=Jawa+Timur&loc2=Pacitan

Keterangan :

1. Huruf yang berwarna merah silahkan ganti sesuai yang diinginkan seperti kode Negara , nama Propinsi dan Kota a/ Kabupaten.

2. Contoh di atas adalah untuk Negara Indonesia ( Kode Negara ID), Propinsi Jawa timur dan Kota Pacitan

Tuh gampang kan..! Hehe. Ya cuman begitu doang caranya kawan. Simple banget.. Udah aja ya gue udah capek nulisnya. Semoga bermanfaat ya kawan..

Wassalamualaikum.

wuushh....wush....
Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan
Mengapa anak perempuan harus berolahraga, bermain menggunakan fisik, atau mendapatkan pendidikan jasmani, mungkin jawabannya adalah untuk melatih fisik menggerakkan badan beserta lain hal yang bersifat positif tentunya. Banyak alasan kesehatan untuk hal ini dan semuanya penting sekali. Bukan hanya untuk kesegaran badan namun lebih dari itu menurut Womens Sport Foundation, ada beberapa alasan yang harus dipertimbangkan. Alasan dari Women's Sport Foundation yang dikutip dari sini adalah:
  1. Anak perempuan yang berolahraga memiliki kelebihan di sekolah
  2. Mungkin secara bayangan adalah anak perempuan yang lebih banyak bermain dan berolah raga akan kehilangan banyak waktu untuk belajar. Namun riset menyatakan bahwa anak perempuan yang mendapatkan pendidikan atau bermain olahraga fisik akan lebih baik performans nya di sekolah dibandingkan yang tidak melakukan hal tersebut. Berolahraga meningkatkan daya belajar, ingatan dan tingkat konsentrasi. Hal ini memberikan banyak dorongan dan kesempatan yang lebih baik ketika belajar di kelas
  3. Anak perempuan yang berolahraga, mempelajari kerjasama tim dan kemampuan menentukan tujuan -goal-
  4. Olahraga memberikan kemampuan belajar alami yang sangat berharga. Saat berinteraksi dengan Guru olahrga, trainer dan teman satu tim untuk memenangkan sebuah pertandingan dan menentukan tehnik serta strategi tujuan tim. Hal ini adalah cara belajar untuk menuju sukses. Kemampuan-kemampuan ini akan dipakai ketika bekerja maupun dalam kehidupan bersama keluarga di rumah.
  5. Olahraga sangat penting untuk kesehatan anak perempuan
  6. Sebagai tambahan manfaat dari kebugaran tubuh dan menjaga berat tubuh. Anak perempuan yang melakukan olahraga akan berada dalam kehidupan yang sehat dan bersih. Untuk kemudian dalam perjalan kehidupannya nanti anak perempuan yang suka berolahraga akan lebih banyak terhindar dari kanker payudara ataupun osteoporosis.
  7. Berolahraga mendorong rasa percaya diri
  8. Anak perempuan yang melakukan olahraga rutin akan merasa nyaman akan dirinya sendiri. Karena olahraga membangun rasa percaya diri ketika bisa menentukan bisa melakukan, bahkan membuat lebih baik, dan menentukan sasaran menjadi lebih tinggi. Olahraga juga sebuah aktivitas yang menyenangkan hati, karena membantu anak perempuan untuk selalu dalam dalam kondisi cerah, menjaga keseimbangan tubuh dan mendapatkan pertemanan yang lebih banyak.
  9. Olahrga menghilangkan stress
  10. Bermain dan melakukan olahraga akan menurunkan stress dan membantu hati menjadi lebih bergembira. Cara kerjanya adalah bahwa struktur kimia di otak akan di salurkan saat olahrga dan hal ini akan menjadikan suasana hati menjadi lebih positif. Teman adalah hal lain yang mendorong lebih baiknya suasana hati -mood-, dan menjadi bagian dari sebuah tim akan membuat lebih erat pertemanan. Adalah hal yang sangat berharga ketika mengetahui bahwa rekan-rekan satu tim akan mensupport, baik di lapangan ataupun dimanapun berada.
Berolahraga dan melakukan aktivitas memang tidak harus berada dimanapun, karena bisa dilakukan di setiap saat dan kesempatan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Saya adalah murid salah satu SMU negeri di Yogyakarta yang ingin mengatakan, bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak lebih dari sebuah penjara bagi siswawnya. Karena siswa harus mengikuti beberapa pelajaran yang kurang di inginkan, tetapi sistem adalah sistem yang sulit untuk diubah. Saya maklumi ini karena sudah berjalan cukup lama dan sulit sekali untuk diubah. Saya bukannya mau meniru sekolah di luar negeri, tetapi mengapa tidak dicoba dulu. Seperti saat ini di sekolah saya ada kelas akselerasi, SMU 2 tahun. Ini hanyalah sebuah percobaan, tetapi tetap berjalan.

Di sekolah saya saat ini sedang mencoba penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan komputer, walaupun fasilitas disekolah kami kurang mencukupi, tetapi ada seorang guru yang ingin menerapkan sistem ini disekolah kami. Walaupun dulu ditentang oleh banyak guru dan bahkan oleh kepala sekolah sekalipun, tetapi tidak menyurutkan niatnya, dan sekarang sudah berjalan cukup lancar. Penyampaiannya dengan menggunakan Power Point. Para siswa mendukung sistem ini dan cukup menyenangkan dan cukup jelas. Beberapa waktu yang lalu sekolah kami dikunjungi oleh beberapa kepala seklah di Yogyakarta untuk melihat sistem dengan menggunakan komputer.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa yang salah, tetapi ini membuat siswa merasa jenuh dan bosan. Banyak siswa yang bolos sekolah karena malas, setiap hari isinya sama saja. Dan siswa sekarang banyak yang tidak "ngajeni" gurunya, dan saya kira ini dari kesalahan sebuah sistem yang kacau.

Sekolah = penjara = bosan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan


Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

MENGKRITISI RUU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Tanpa banyak terliput oleh media massa dan agak luput dari perhatian kalangan pendidikan, Komisi VI DPR RI saat ini tengah membahas RUU Sistem Pendidikan Nasional. RUU ini naskah awalnya digarap oleh Komite Reformasi Pendidikan Badan Pengembangan dan Penelitian Departemen Pendidikan Nasional (KRP Balitbang Depdiknas).

Dengan pemikiran UU Sisdiknas mempunyai arti sangat penting dalam memberi landasan yang kukuh bagi pembangunan pendidikan nasional di samping fungsinya sebagai pemberi kepastian hukum dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan, senyampang RUU tersebut masih dalam proses pembahasan, penulis mencoba untuk mengangkat beberapa hal penting sebagai masukan bagi DPR.
Pendidikan Dasar
Sejak dahulu dan kemudian berlanjut sampai sekarang secara sadar kita semua mengalami kekacauan dalam tata nama jenjang pendidikan pada jalur pendidikan sekolah. Sebelum UU No. 2/1989 dan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) Sembilan Tahun diberlakukan, Pemerintah menamai jenjang pendidikan terendah sebagai Sekolah Dasar (SD), kemudian jenjang berikutnya Sekolah Menengah Pertama (SMP), lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) dan nama-nama khusus bagi sekolah menengah kejuruan. Dalam perkembangannya, setelah UU No. 2/1989 dan Wajar Dikdas diberlakukan, nama SMP diubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), SMA menjadi Sekolah Menengah Umum (SMU), dan sekolah-sekolah kejuruan cukup dengan nama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Walaupun dasar penggantian nama SMP menjadi SLTP adalah karena SMP merupakan bagian dari pendidikan dasar, nama baru ini tetap mencerminkan kekacauan berpikir karena nama SLTP mengesankan adanya jenjang di atasnya yang bernama SLTK (Sekolah Lanjutan Tingkat Kedua) dan seterusnya. Mestinya nama yang tepat adalah Sekolah Dasar Lanjutan (SDL) yang menunjukkan dengan jelas kedudukan jenjang pendidikan tersebut dalam sistem pendidikan nasional kita.
Anehnya, dalam naskah RUU yang dibahas pada 5 Desember 2001 Komisi VI menyebut ‘Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau yang sederajat yang terdiri atas enam tingkat’ (pasal 17 ayat 2), kemudian ‘Pendidikan menengah tingkat pertama berbentuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau yang sederajat’ dan ‘Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) terdiri atas tiga tingkat’ (Pasal 19 ayat 2 dan 3). Berikutnya, dalam pasal 20 ayat 3 disebutkan bahwa ‘Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA)’, dan pada ayat 4 ‘Pendidikan menengah vokasional berbentuk Sekolah Menengah Vokasional (SMV)’.
Di samping sistem tata nama yang kacau, terdapat kekacauan dan kemunduran berpikir yang sangat mendasar para wakil rakyat di Komisi VI yaitu dengan mengembalikan jenjang pendidikan sekolah setelah SD ke dalam jenjang pendidikan menengah yang disebut sebagai pendidikan menengah tingkat pertama. Apalagi dalam pasal 19 ayat 1 disebutkan bahwa ‘Pendidikan menengah tingkat pertama bertujuan untuk mengembangkan kepribadian, sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk memasuki dunia kerja atau untuk mengikuti pendidikan lebih lanjut’ (kursif dari penulis). Pasal ini jelas-jelas memberikan legalitas formal dan pengakuan kepada dunia bahwa Indonesia mengizinkan dunia usaha mempekerjakan anak-anak berusia muda sebagai buruh karena usia lulusan jenjang pendidikan setelah SD tersebut adalah sekitar 15 tahun. Sungguh tidak masuk akal, keberanian politik Pemerintah di masa lalu yang untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia menetapkan jenjang pendidikan dasar berlangsung sembilan tahun dimentahkan oleh para wakil rakyat di era reformasi. Kenyataan cukup banyak anak-anak berusia muda menjadi buruh atau mencari nafkah bagi keluarganya tentunya tidak harus membuat negara mencabut komitmennya dalam mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan.
Dalam hal penjenjangan dan penetapan tujuan pendidikan, UU No. 2/1989 justru lebih progresif karena dengan jelas menyebutkan jenjang pendidikan dasar berlangsung selama sembilan tahun dan jelas-jelas tidak memasukkan kesiapan memasuki dunia kerja sebagai salah satu tujuan pendidikannya. Naskah terakhir KRP Balitbang Depdiknas pun (27 Juni 2001) memasukkan jenjang pendidikan dasar selama sembilan tahun dengan menyebut pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar dan sekolah dasar lanjutan.
Pendidikan Keagamaan
Dalam naskah RUU, baik naskah dari KRP Balitbang Depdiknas maupun naskah pembahasan Komisi VI, muncul sesuatu yang baru yaitu masuknya secara eksplisit madrasah dan pesantren. Di samping menempel dalam pasal-pasal tentang jenjang pendidikan yang salah satunya menyebut pendidikan keagamaan, dalam naskah KRP Balitbang Depdiknas ketentuan tentang madrasah dan pesantren tercantum dalam satu pasal khusus yang berisi empat ayat (pasal 17 ayat 1 s.d. 4). Dalam naskah pembahasan Komisi VI ketentuan tersebut muncul dalam salah satu pasal di bawah judul Pendidikan keagamaan yaitu pasal 26 yang secara eksplisit menyebut jenis pendidikan keagamaan Islam. Di samping itu, Komisi VI memasukkan secara eksplisit nama madrasah sesuai dengan jenjangnya dalam pasal-pasal yang menyebutkan nama suatu jenjang pendidikan (pasal 17, 18, 19, dan 20).
Menurut hemat penulis, dengan pemikiran bahwa UU ini berlaku untuk semua warga negara tanpa membedakan agama, tentunya akan lebih bijaksana untuk tidak mencantumkan secara eksplisit ketentuan-ketentuan yang sangat spesifik menunjuk agama tertentu. Atau bila hal tersebut memang sangat diperlukan untuk memberikan kepastian hukum terhadap jenis dan jenjang pendidikan yang berciri khas agama tertentu, akan lebih baik jika jenis dan jenjang sekolah yang sangat khas yang diselenggarakan oleh pemeluk masing-masing agama dapat dicantumkan semua. Pasal 25 naskah pembahasan Komisi VI sebenarnya sudah cukup mengakomodasikan hal tersebut sehingga pencantuman nama jenjang sekolah yang sangat spesifik menunjuk kepada jenis pendidikan yang diselenggarakan oleh pemeluk agama tertentu menjadi tidak perlu.
Peguruan Swassta
Satu hal yang cukup mengecewakan dalam RUU pembahasan Komisi VI adalah pengakuan terhadap perguruan swasta. Seperti halnya UU No. 2/1989 yang menempatkan eksistensi perguruan swasta dalam pasal buncit, naskah pembahasan Komisi VI pun sama saja (pasal 47 dari 59 pasal dalam UU No. 2/1989 dan pasal 49 dan 59 dari 67 pasal dalam naskah Komisi VI) dan keduanya pun tidak secara eksplisit menyebut ‘perguruan swasta’. Tentang bantuan pembiayaan bagi perguruan swasta pun keduanya menggunakan bahasa yang mengambang. UU No. 2/1989 menyebut ‘Pemerintah dapat memberi bantuan kepada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan yang berlaku’ dan naskah pembahasan Komisi VI menyebut ‘Biaya penyelenggaraan pendidikan oleh masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, pemerintah, dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku’ (kursif dari penulis).
Tampaknya, pemahaman akan hak peserta didik sebagai warga negara yang bersekolah di lembaga pendidikan swasta tetap belum berubah dari tahun ke tahun. Harus dipahami bahwa jumlah sekolah dan siswa lembaga pendidikan swasta, terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah cukup besar untuk dapat diabaikan begitu saja.
Anggaran Pendidikan
Satu hal yang menarik dalam naskah pembahasan Komisi VI adalah dicantumkannya secara eksplisit pengalokasian dana Pemerintah yaitu 20% dari APBN, 20% dari APBD Provinsi, dan 20% dari APBD Kota/Kabupaten, semuanya di luar alokasi dana bagi gaji guru (naskah KRP Balitbang Depdiknas menyebut angka 6% PDB dan masing-masing 20% APBD Provinsi dan Kota/Kabupaten). Suatu kemajuan yang cukup berarti karena apabila RUU ini berhasil diundangkan tanpa revisi dalam hal pendanaan, pembangunan pendidikan akan kian membaik.
Di samping hal-hal yang penulis kemukakan di atas, masih banyak hal yang perlu pembahasan dan masukan dari berbagai pihak agar RUU ini dapat memenuhi keinginan kita semua dalam membangun sebuah sistem pendidikan nasional yang kuat. Untuk itu, Komisi VI seyogyanya rajin mencari masukan dari masyarakat dan berbagai kalangan yang memiliki perhatian kepada perkembangan dunia pendidikan melalui semacam public hearing dan sebagainya.(gg)

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

ABSTRAK
Seperti kita ketahui saat ini, terasa atau tidak terasa, suka atau tidak suka, kita sedang terbawa oleh perubahan zaman yang sangat besar yang menyangkut segala aspek kehidupan menuju suatu era yang disebut dengan era globalisasi. Sejauh mana kita berperan serta dalam era globalisasi tersebut.
Sebenarnya yang diinginkan bangsa Indonesia adalah kita sebagai bangsa yang besar harus dapat berperan serta positif dalam era globalisasi ini, kita tidak ingin hanya menjadi obyek dan bulan-bulanan bangsa lain.Oleh sebab itu kita harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menyongsong era tersebut, salah satu alternatif adalah mempersiapkan sumber daya manusia melalui proses pendidikan. Jadi masalah utama yang harus dijawab dalam adalah model pengajaran apa yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka menyongsong era globalisasi. Salah satu alternatif adalah memperkenalkan IPTEK secara dini dalam pendidikan formal karena siswa-siswi kita adalah sumber daya manusia dimasa yang akan datang.

A. Pendahuluan.

Basic Technology Education atau Pendidikan Dasar Teknologi merupakan materi pelajaran yang mengacu pada bidang IPTEK, dimana siswa diberi kesempatan untuk membahas dan mempelajari masalah teknologi di masyarakat, memahami dan menangani peralatan teknologi serta membuat produk teknologi sederhana melalui kegiatan merancang, membuat, menggunakan dan menganalisa dengan menggunakan metoda pemecahan masalah .

Kompetensi-kompetensi seperti mampu memecahkan masalah, mampu berpikir alternatif dan mampu mengevaluasi sendiri hasil pekerjaannya, dapat dikembangkan melalui BTE. Artinya BTE dapat mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan khusus agar dapat bekerja mandiri dalam kebersamaan serta berhasil di masa depannya.

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, kita akan dihadapkan pada perubahan dan perkembangan IPTEK yang sangat cepat, demikian juga halnya dengan kebudayaan juga akan berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK. Menghadapi keadaan ini masyarakat perlu diarahkan pada sikap "sadar teknologi" atau "melek teknologi".

Oleh karena itu langkah yang paling baik adalah IPTEK perlu diperkenalkan secara dini melalui pendidikan formal. Sehingga sangat relevan jika Pendidikan Teknologi Dasar diperkenalkan di sekolah khususnya SLTP, karena para siswa-siswi kita adalah aset sember daya manusia di masa yang akan datang. Melalui kegiatan Pendidikan Teknologi Dasar para tamatannya dapat lebih menyadari masalah teknologi seperti mamapu menangani produk teknologi, mampu membuat produk teknologi sederhana serta dapat menyadari bahwa produk teknologi sangat erat erat kainnya dengan masyarakat. Selain itu para siswa-siswi memiliki motivasi yang kuat untuk mempelajari teknologi lebih lanjut, misal sampai perguruan tinggi.

Di negara-negara yang telah maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, Belanda, Australia, Belgia dan sebagainya, pendidikan teknologi sudah diperkenalkan sejak akhir dasa warsa yang lalu dan saat ini telah dijadikan bagian dari kurikulum pokok pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan, selain itu di Afrika Selatan sudah dipersiapkan kurikulum yang disebut "kurikulum Afrika Selatan menuju tahun 2005" dan memasukkan pendidikan teknologi sebagai mata pelajaran pokok.

Di Indonesia sebenarnya telah ada gagasan untuk memperkenalkan pendidikan teknologi sebagai mata pelajaran yang terpisah, yaitu pada saat penyuusunan kurikulum tahun 1990-1991, tetapi akhirnya diputuskan oleh pemerintah, bahwa teknologi diintegrasikan kedalam mata pelajaran yang sudah ada seperti Fisika, Kimia, Biologi dan sebagainya seperti yang kita lihat dalam kurikulum tahun 1994, misanya seperti pada mata pelajaran IPA telah diperkenalkan kegiayan merancang dan membuat dengan mengaplikasikan konsep Fisika dengan kebutuhan siswa di masyarakat. Di SLTP terdapat 10 %-15 % kegiatan teknologi dalam bentuk merancang dan membuat.

Pada saat ini di Indonesia Pendidikan Teknologi Dasar (BTE) mulai diperkenalkan dalam mata pelajaran yang terpisah dan masih merupakan proyek rintisan dan percontohan, kegiatan ini di perkenalkan di Indonesia atas kerjasam . Departement Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan Departement Pendidikana dan Kebudayaan pemerintah Kerajaan Belanda, secara operasional kegiatan ini di laksanakan oleh SLO ( Pusat kurikulum Belanda ) dan Direktorat Sekolah Swasta ( Ditsiswa ) Depdikbud Indonesia. Dan di tunjuk 4 sekolah swasta percontohan yaitu SLTP Taruna Bakti Bandung, SLTP Al-Kautsar Bandar Lampung, SLTP Hang Tuah Ujung Pandang dan SLTP Katolik Ambon, semua nya adalah SLTP_SLTP swasta. Kurikulumnya dikembangkan oleh Balitbang Depdikbud, PPPG teknologi Bandung dan SLO ( Pusat Kurikulum Belanda ), sedangakan pengembangan materi dan metodeloginya dilakukan oleh PPPG Teknologi Bandung bekerja sama dengan Hoogeschool Van Utrecht ( Hvu ) Belanda.


B. Peluang Pendidikan Teknologi Dasar dalam Kurikulum SLTP Tahun 1994 ( Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 ).

Dalam era globalisasi, yang seperti telah dicanangkan oleh Presiden terdahulu bahwa Indonesia tahun 2003 - 2010akan memasuki pasar bebas, diaman setiap orang dapat melakukan aktifitas di Indonesia dengan kompetisi objektif, tanpa melihat asal usul kewarga negaraannya, hal itu berarti siap tidak siap, suka tidak suka, mau tidak mau semua masyarakat Indonesia harus berhadapan dan terlibat langsung dengan perkembangan Ilmu Perngetahuan dan Tenologi ( IPTEK ) yang sangat pesat, bagaikan "Air Bah" yang dapat menerjang siapa saja.

Kondisi terssebut dapat memberi peluang yang sanagt besar bagi kita, tetapi juga dapat menimbulkan tantangan yang besar pula. Hanya saja tantangan yang besar itu jangann sampai menjadi ancaman, karen kita bangsa Indonesia tidak mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengantisipasi keadaaan itu, pemerintah sejak tahun 1984 telah wajib belajar sembilan tahun oleh presiden Soeharto waktu itu, sehingga pada tahun 2003 di harapkan masyarakat Indonesia serendah-rendahnya berpendidikan SLTP.Pada kondisi tersebut, merupakan tonggak yang amat kritis karena ke majuan negara sangat bergantung kepda kwalitas sumber daya manusianya agar kita dapat bersaing secara global dengan cara kompotitf atau kooperatif.

Selain itu masyarakat indonesia harus "melek teknologi" (sadar teknologi), sehingga wawasan IPTEK perlu diperkenalkan secara dini kepada para siswa-siswi kita. Persoalannya sekarang adalah, apakah sistimm pendidikan yang sudah ada sekarang memungkinkan dapat meningkatkan wawasan IPTEK siswa ?, Apakah masih ada peluang lain untuk meningkatkan wawasan IPTEK siswa ?.

Kita tinjau kurikulum tentang Pendidikan Dasar yang telah disiapkan oleh pemerintah, dalam buku kurikulum pendidikan tahun 1994 tentang Pendidikan Dasar, penyajian mata pelajaran dimaksudkan agar lulusannya memperoleh bekal kemampuan dasar untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, warga negara dan anggota masyarakat serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (PP no 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar).

Selanjutnya dalam buku Kurikulum Pendidikan Dasar : Landasan, Program dan Pengembangan dijelaskan bahwa "Kurikulum di SLTP lebih menekankan pada kemampuan siswa untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan lingkungan. Pengauasaan tersebut akan memudahkan siswa untuk mengembangkan kemampuannya secara bertahap seperti berpikir teratur, kritis dalam memecahkan masalah sederhana serta sanggup bersikap mandiri dalam kebersamnaan" makna dari ungkapan tersebut diatas, mengisaratkan bahwa peluang memperkenalkan wawasan IPTEK sudah tersirat dalam kurikulum tahun 1994 dan wawasan IPTEK sudah seharusnya mulai diperkenalkan sjak di SLTP.


C. Apa Pendidikan Teknologi Dasar itu ?

Pendidikan Teknologi Dasar menurut HJ. Grover dapat didefinisikan sebagai pendidikan untuk massa depan yang memberi anak-anak muda kesempatan untuk mempelajari berbagai jenis bahan, proses, produk industri dan permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan dan pekerjaan dalam dunia teknologi (SLO, basic Technology Education, Nov. 1995). Definisi secara acurat sulit untuk diberikan karena teknologi berubah secara cepat.

Pendidikan Teknologi Dasar bertujuan memperkenalkan dan membiasakan para siswa-siswi terhadap dunia teknologi dengan aspek-aspek penting yang memungkinkan siswa dapat :
1. Mengembangkan berpikir kritis terhadap teknologi.
2. Mengembangkan kemampuan berpendapat tentang teknologi dan mampu menggambarkannya pada orang lain.
3. Mengidentifikasi dampak teknologi baik yang positif maupun yang negatif terhadap masyarakat dan lingkungan.
4. Memiliki wawasan dalam memilih profesi dalam bidang teknologi sehingga memiliki peran yang berarti di dalam masyarakat.
5. Memiliki motivasi untuk belajar lebih lanjut tentang teknologi.
6. Membiasakan diri bekerja sendiri dalam kebersamaan.

Teknologi bagi setiap anak dan masyarakat tidaklah sama, sebagai contoh anak yang berada di Jakarta mempunyai pandangan tentang teknologi yang sangat berbeda dengan anak yang berada di kota Menado, akan tetapi adan teknologi yang bersifat umum. Selain itu pada saat ini dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat anak akan mempunyai pandangan dasar tentang teknologi yang hampir sama dan menyadari bahwa teknologi berkembang sangat pesat.

Dalam pendidikan teknologi dasar setiap siswa akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap tiga pilar teknologi yaitu :
1. Penangan produk teknologi.
Para siswa dapat menggunakan produk teknologi secara tepat dan benar, baik berupa alat untuk memproduksi, maupun alat-alat ukur (instrumen), sehingga memberi kesempatan kepada para siswa untuk memahami kemampuan dan minatnya dalam bidang teknologi. Pada bagian ini para siswa belajar tentang teknologi dengan praktek dan praktikum dengan metoda pemecahan masalah dan pendekatan sistim.
2. Pembuatan produk teknik.
Para siswa diharapkan dapat menyadari bahwa teknologi sebagai suatu proses kegiatan yang dapat membuat sesuatu benda kerja yang dapat berfungsi dan bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.Dalam bagian ini para siswa belajar bagaimana membuat produk teknik atau benda kerja yang dapat berfungsi dengan cara terlibat selama proses pembuatannya dan menggunakan produk teknologi sebagai alatnya. Benda yang dibuat oleh siswa adalah benda yang dapat berfungsi karena benda yang berfungsi akan memberikan motivasi yang tinggi pada diri para siswa untuk belajar lebih lanjut. Pada bagian ini para siswa akan belajar teknologi dasar dengan metoda : alur produksi, kunjungan industri, pemecahan masalahdan pendekatan sistim.
3. Teknologi dan masyarakat.
Teknologi sebagai suatu alat untuk memecahkan permasalahan manusia. Disini terdapat hubungan yang erat antara teknologi dengan ilmu pengetahuan lain di dalam masyarakat. Pada bagian ini para siswa belajar dengan metoda kunjungan industri, pemecahan masalah, alur produksi dan bekerja tematis.

Berdasarkan ketiga pilar tersebut diatas materi umum pendidikan dasar teknologi dikembangkan, dengan koposisi sebagai berikut : (a) Penanganan produk teknologi memerlukan waktu 30 %; (b) Pembuatan produk teknologi, meerlukan waktu 35 %; (c) Hubungan antara teknologi dengan masyarakat, memerlukan alokasi waktu 10 %. Sedangkan waktu yang tersisa sekitar 25 % dicadangkan untuk diisi dengan teknologi yang sifatnya lokal atau sesuai dengan perkembangan teknologi yang yang ada didekat lingkungan para siswa.

D. Buku Sumber.
1. ................., (1997) Basic Technology Education Curriculum Indonesia, Educaplan, Enschede, The Netherlands.
2. Doornekamp, B.G. (1995). Technology in Dutch Primary Education, National Institut for Curriculum Devellopment, The Netherlands.
3. Griffith, Alan K & Health, Nancy Parson, (1996), Student Secondary view about Technology, Journal Research in Science & Technology Education, Vol. 14, No. 2.
4. Sukadinata, Prof. Dr. Nana Syaodih, (1997) Pengembangan Kurikulum, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.


Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan


Dalam buku Belajar Civic Education dari Amerika, dijelaskan bahwa Civic Education adalah pendidikan- untuk mengembangkan dan memperkuat dalam atau tentang pemerintahan otonom (self government). Pemerintahan otonom demokratis berarti bahwa warga negara aktif terlibat dalam pemerintahannya sendiri; mereka tidak hanya menerima didikte orang lain atau memenuhi tuntutan orang lain. Yang pada akhirnya cita-cita demokrasi dapat diwujudkan dengan sesungguhnya bila setiap warganegara dapat berpartisipasi dalam pemerintahannya Dalam demokrasi konstitusional, civic education yang efektif adalah suatu keharusan karena kemampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat demokratis, berpikir secara kritis, dan bertindak secara sadar dalam dunia yang plural, memerlukan empati yang memungkinkan kita mendengar dan oleh karenanya mengakomodasi pihak lain, semuanya itu memerlukan kemampuan yang memadai (Benjamin Barber, 1992)
Tujuan civic education adalah partisipasi yang bermutu dan bertanggung jawab dalam kehidupan politik dan masyarakat baik ditingkat lokal, maupun nasional. Hasilnya adalah dalam masyarakat demokratis kemungkinan mengadakan perubahan sosial akan selalu ada, jika warga negaranya mempunyai pengetahuan, kemampuan dan kemauan untuk mewujudkannya. Partisipasi warga negara dalam masyarakat demokratis, harus didasarkan pada pengetahuan, refleksi kritis dan pemahaman serta penerimaan akan hak-hak dan tanggung jawab. Partisipasi semacam itu memerlukan (1) penguasaan terhadap pengetahuan dan pemahaman tertentu, (2) pengembangan kemampuan intelektual dan partisipatoris, (3) pengembangan karakter atau sikap mental tertentu, dan (4) komitmen yang benar terhadap nilai dan prisip fundamental demokrasi.
Dalam civic education juga didalamnya mengembangkan tiga komponen utama: pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), kecakapan kewarganegaraan (civic skills), dan watak-watak kewarganegaraan (civic dispositions).
Civic Education memberdayakan warganegara untuk dapat membuat pilihan yang bijak dan penuh dengan kesadaran dari berbagai alternatif yang ditawarkan, memberikan pengalaman-pengalaman dan pemahaman yang dapat memupuk berkembangnya komitmen yang benar terhadap nilai-nilai dan prinsip yang memberdayakan sebuah masyarakat bebas untuk tetap bertahan.
Civic Education bukan hanya meningkatkan partisipasi warga negara, tetapi juga menanamkan partisipasi yang berkompeten dan bertanggungjawab dan kompeten harus didasarkan pada perenungan (refleksi), pengetahuan dan tanggung jawab moral.
Ace Suryadi mengatakan bahwa Civic Education menekankan pada empat hal :
Pertama, Civic Education bukan sebagai Indoktrinasi politik, Civic Education sebaiknya tidak menjadi alat indoktrinasi politik dari pemerintahan yang berkuasa. Civic Education seharusnya menjadi bidang kajian kewarganegaraan serta disiplin lainnya yang berkaitan secara langung denga proses pengembangan warga negara yang demokratis sebagai pelaku-pelaku pembengunan bangsa yang bertanggung jawab.
Kedua, Civic Education mengembangkan state of mind, pembangunan karakter bangsa merupakan proses pembentukan warga negara yang cerdas serta berdaya nalar tinggi. Civic education memusatkan perhatian pada pembentukan kecerdasan (civic intelligence), tanggung jawab (civic responbility), dan partisipasi (civic participation) warga negara sebagai landasan untuk mengembangkan nilai dan perilaku demokrasi. Demokrasi dikembangkan melalui perluasan wawasan, pengembangan kemampuan analisis serta kepekaan sosial bagi warga negara agar mereka ikut memecahkan permasalahan lingkungan. Kecakapan analitis itu juga diperlukan dalam kaitan dengan sistem politik, kenegaraan, dan peraturan perundang-undangan agar pemecahan masalah yang mereka lakukan adalah realistis.
Ketiga, Civic Education adalah suatu proses pencerdasan, pendekatan mengajar yang selama ini seperti menuangkan air kedalam gelas (watering down) seharusnya diubah menjadi pendekatan yang lebih partisipatif dengan menekankan pada latihan penggunaan nalar dan logika. Civic education membelajarkan siswa memiliki kepekaan sosial dan memahami permasalahan yang terjadi dilingkungan secara cerdas. Dari proses itu siswa dapat juga diharapkan memiliki kecakapan atau kecerdasan rasional, emosional, sosial dan spiritual yang tinggi dalam pemecahan permasalahan sosial dalam masyarakat. Keempat, Civic Education sebagai lab demokrasi, sikap dan perilaku demokratis perlu berkembang bukan melalui mengajar demokrasi (teaching democracy), akan tetapi melalui penerapan cara hidup berdemokrasi (doing democracy) sebagai modus pembelajaran. Melalui penerapan demokrasi, siswa diharapkan akan seceptnya memahami bahwa demokrasi itu penting bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam hal ini civic education lebih dipentingkan karena menekankan pada:
Pertama, Civic Education tidak hanya sekadar melayani kebutuhan-kebutuhan warga dalam memahami masalah-masalah sosial politik yang terjadi , tetapi lebih dari itu. Ia pun memberikan informasi dan wawasan tentang berbagai hal menyangkut cara-cara penyelesaian masalah . dalam kontek ini, civic education juga menjanjikan civic knowledge yang tidak saja menawarka solusi alternatif, tetapi juga sangat terbuka dengan kritik (kontruktif). Kedua, Civic education dirasakan sebagai sebuah kebutuhan mendesak karena merupakan sebuah proses yang mempersiapkan partisipasi rakyat untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis.
Pendidikan yang bersifat demokratis, harus memiliki tujuan menghasilkan tujuan menghasilkan lulusan yang mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan mampu mempengaruhi pengambilan keputusan kebijakan publik. Dengan kata lain, pendidikan harus mampu menanamkan kesadaran dan membekali pengetahuan kan peran warga dalam masyarakat demokratis.
Guna membangun masyarakat yang demokratis diperlukan pendidikan agar warganya dapat mengkritisi dan memahami permasalahan yang ada. Dengan demikian civic education akan menghasilkan suatu pendidikan yang demokratis dengan melahirkan generasi masa depan yang cerdas, terbuka, mandiri dan demokratis.
Sehingga diharapkan civic education dapat memberikan nilai-nilai demokrasi dengan tujuan : Pertama, Dapat memberikan sebuah gambaran mengenai hak dan kewajiban warga negara sebagai bagian dari integral suatu bangsa dalam upaya mendukung terealisasinya proses transisi menuju demokrasi, dengan mengembangkan wacana demokrasi, penegakan HAM dan civil society dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, Menjadikan warga negara yang baik (good citizen) menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang mengedepankan semangat demokrasi keadaban, egaliter serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Ketiga, Meningkatkan daya kritis masyarakat sipil. Keempat, Menumbuhkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat sipil secara aktif dalam setipa kegiatan yang menunjang demokratisasi, penegakan HAM dan perwujudan civil society.


Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Pada tahap sekarang ini Indonesia telah memasuki tahap pembangunanan dalam dunia pendidikan walaupun tampaknya dunia pendidikan di indonesia masih sangat memprihatinkan namun di balik itu dunia pendidikan di Indonesia mengalami sedikit peningkatan bila kita bandingkan dengan dunia pendidikan yang ada di Indonesia sebelumnya.
Namun semua itu masih banyak hal yang perlu di perbaiki dalam dunia pendidikan yang ada di Indonesia antara lain sistem pendidikan yang ada sekarang ini.
Sistem pendidikan yang ada di Indonesia kayaknya perlu ada perumbakan dalam arti tidak merumbak untuk menghancurkan sistem pendidikan yang lama dengan mengganti metode yang baru, namun kita harus bisa sama-sama menutupi lobang-lobang yang ada dalam dunia pendidikan sekarang ini.
Sebagai mana metode pengajaran yang ada di bangku kuliah sekarang ini masih menganggap seorang mahasiswa itu sebagai anak-anak yang bodoh dan perlu di dikte oleh dosen padahal pada kenyataannya seorang mahasiswa itu belum tentu lebih bodoh dari dosennya akan tetapi mungkin dosennya lebih bodoh dari mahasiswanya, namun Dosen lebih dahulu memandang dunia ini, seperti yang kita lihat sekarang ini keadaan real yang ada dosen selalu memegang kekuasaan kebenaran padahal dosen tersebut belum tentu benar.
Maka sistem seperti itu harus kita ubah agar mahasiswa kuliah itu tidak hanya mengejar nilai yang bagus di mata dosen tapi mahasiswa itu membuka wacananya berpikir dan bisa mengatakan kebenaran menurut pola /sudut pikirannya, kalau memang itu pada kenyataannya benar.
Karna semua itu adalah salah satu tahap awal bagi seorang mahasiswa untuk membuka wacananya berpikir krisis dan berinteraksi langsung dengan dunia pendidikan yang ada..


Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Ilmuwan yang berkutat dengan teori bukanlah orang yang patut menjadi sumber pengetahuan, karena Alam ini sungguh tak ramah padanya dan sering sinis atas karya-karyanya. Alam tak pernah bilang "ya" untuk sebuah teori, paling banter ia berkata "mungkin" dan paling sering adalah menjawab "tidak". (Albert Einstein, 1905)

Berangkat dari pengalaman melakukan proses pembelajaran fisika di MAN Majalaya pada tahun 2004, kemudian muncul gagasan praktis melakukan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang berjudul "Penerapan Pendekatan Pembelajaran Fisika Bemuatan Nilai (Imtaq) serta Implikasinya Terhadap Prestasi dan Sikap Belajar Siswa". Penelitian ini dilakukan di kelas 2 MAN Majalaya pada Pokok Bahasan Tata Surya dan Jagat Raya.

Menemukenali Masalah Pembelajaran di Kelas

Setelah melakukan proses perenungan (refleksi) dan kaji ulang (evaluasi) selama melakukan proses pembelajaran fisika di MAN Majalaya, ternyata proses pembelajaran fisika yang diterapkan di kelas 2 MAN Majalaya belum membawa perubahan yang positif bagi kualitas pembelajaran siswa (kelas 2-3 dan 2-4). Dari evaluasi dan perenungan, muncul berbagai temuan berupa daftar permasalahan-permasalahan pembelajaran di kelas.

Perenungan yang dilakukan kemudian ditindaklajuti oleh survey kecil dengan teknik wawancara dan penyebaran angket sederhana dengan tujuan untuk melihat respon siswa terhadap proses pembelajaran fisika yang dilakukan selama ini. Permasalahan yang ditemukan atau teridentifikasi diantaranya:

- Fakta nilai akademik dari test yang dilakukan rata-rata bernilai 5,54 (rendah) walaupun sebagian kecil siswa memiliki nilai diatas 6,00. fakta ini menunjukan l prestasi belajar bidang fisika di kelas 2-3 dan 2-4 di MAN Majalaya kurang memuaskan (rendah).

- Survey menunjukan sekitar 75% siswa di kelas menilai pembelajaran yang dilakukan menjenuhkan, fisika menyulitkan, tidak bersemangat, tidak menyenangkan tidak termotivasi, dan tidak memperoleh makna (nilai) keyakinan atau atau tidak ada nilai tambah lainnnya.

Berangkat dari kenyataan di atas, dapat diperoleh simpulan, bahwa kualitas pembelajaran di kelas masih rendah, disebabkan oleh penerapan pembelajaran fisika menggunakan pendekatan klasik, tidak adaptif, dan menjenuhkan yang dilakukan oleh guru fisika di kelas.

Setelah mendapatkan kesimpulan seperti yang dikemukan di atas, kemudian diambil sikap dan mencoba menyusun gagasan praktis untuk memperbaiki dan memecahkan permasalahan yang terjadi di ke kelas, berbekal pengetahuan mengenai konsepsi penelitian tindakan kelas (classroom action research), Kajian Al Qur'an (terjamahan) dan sarana yang dimiliki oleh pribadi (CD Harun Yahya, dan sekolah, kemudian diambil sikap untuk melakukan sebuah penelitian kecil sekaligus tindakan praktis pemecahan masalah pembejaran fisika dengan menerapkan pendekatan lain yang berbeda dan disesusaikan dengan lingkungan sosial sekolah.

Kemudian setelah ada gagasan, selanjutnya di diskusikan dengan guru dan pimpinan sekolah, setelah mendapat respon positif guru dan pimpinan sekolah. Konsepsi penelitian yang dilakukan adalah pendekatan pembelajaran fisika bermuatan nilai serta implikasinya terhadap prestasi dan belajar siswa. Konsepsi ini memadukan antara materi fisika dengan informasi-informasi Al Qur'an yang relevan dengan materi dan diperkuat oleh dokumentasi film documenter Harun Yahya.

Kemudian, dilakukanlah proses penelitian seperti kebiasaan belajar namun pendekatannya yang berbeda. Jadi, penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran biasa yang dilakukan di kelas, tidak menambah waktu pembelajaran tertentu.

Proses Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Siklus I (kesatu)

Tahap Perencanaan

Pada siklus pertama, tahap perencanaan dimulai dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berisikan tujuan, indikator pencapaian belajar, menyiapkan bahan-bahan Ajar, Instrumen wawancara, instrumen angket dan peralatan yang mendukung seperti TV, Al Qur'an dan Alat Evaluasi. Materi fisika yang dibahas adalah mengenai Tata Surya dan Jagat raya. Proses penelitian dilakukan di dua kelas.

Tahap Pelaksanaan

Tindakan pertama, diorientasikan pada upaya meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan keyakinan,pendekatan pembejaran umum dimuati dengan informasi yang di jelaskan dalam Al Qur;an bahwa mempelajari fisika tata surya memiliki dan Jagat Raya memiliki keterkaitan dengan ayat-ayat yang ada dalam Al Qur'an (seperti Surat Al Qadr, AL Jalzalah, Surat Ad Dhukhan dll). Kemudian di akhir Pembelajaran dilakukan evaluasi bersama melalui proses tanya jawab, wawancara dan evaluasi kecil mengenai materi yang disampiakan

Refleksi Tindakan I :

Dari wawancara atau yang dilakukan diperoleh temuan-temuan yaitu ;

- Pendekatan pembelajaran yang dilakukan menambah motivasi siswa untuk belajar fisika

- Pendekatan yang dilakukan menambah wawasan, pengetahuan, nilai keyakinan materi fisika memiliki hubungan dengan Al Qur'an

- Ketika Proses evaluasi diperoleh nilai akademik fisika yang relatif bertambah.

Siklus II (Kedua)

Tahap Perencanaan

Pada siklus kedua, Perencanaan lebih difokuskan pada aspek sikap dan respon terhadap ketertarikan mengikuti pembelajaran, aspek sikap terhadap penghayatan nilai-nilai ketuhanan, dan aspek pada proses penyampaian materi.

Perencanaan seperti biasa namun pendekatan pembejalaran umum di perkuat dengan pemutaran Film dokumenter Harun Yahya tentang proses Asal Mula Jagat Raya yang dimuati juga dengan informasi Al Qur'an. Perencanaan ini dilakukan untuk lebih memotivasi siswa untuk belajar, berdiskusi dan mengetahui simulasi proses penciptaan jagat raya.

Tahap Pelaksanaan

Pada siklus kedua, melakukan pemutaran film documenter proses penciptaan jagat raya, dilanjutkan dengan pemberian materi tambahan, kemudian siswa diajak untuk berdiskusi setelah pemutaran film dilakukan. Kemudian dilakukan test /evaluasi dari dua materi yang dilakukan dari siklus 1 dan 2

Refleksi Tindakan kedua :

Dari siklus kedua ini diperoleh simpulan;

- Pembelajaran dengan menggunakan metode ini lebih menyenangkan dan tidak monoton,

- Pada aspek ketertarikan mengikuti materi pembelajaran jagat raya meningkat (90% setuju)

- Pada aspek penghayatan terhadap kebermaknaan materi dan nilai-nilai ketuhanan bertambah (95% siswa merespon positif)

- Pada aspek penerimaan penyampaian materi sekitar 97 % menyakan sangat merespon positif

- Kemudian evaluasi akademik menunjukan penambahan kuantitas nilai akademik dari rata-rata 5,54 menjadi 6,01.

Hambatan Melakukan PTK

Berangkat dari pengalaman yang dialami, ada beberapa hal yang menjadi hambatan-hambatan dalam melakukan PTK diantaranya

- Rendahnya kesadaran dan minat melakukan penelitian karena membutuhkan penguasaan kapasitas penelitian dan sumber daya dukungan. Padahal, PTK bisa dilakukan dengan metode dan prosedur yang sangat sederhana.

- Kadangkala kita belum memiliki kesadaran untuk mau berdiskusi, mau dikritik, bertanya pada siswa mengenai metode pembejaran yang dilakukan, seolah-olah kita sudah benar dan menjalankan fungsi guru/pengajar sebagaimana mestinya.

- Permasalahan rendahnya kualitas siswa (kognitif, apektif dan psikomotorik) kadang diletakan pada siswa/subjek didik. Padahal, posisi dan peran guru sangat menentukan keberhasilan subjek didik

- Keterbatasan sarana (pendukung) di sekolah bisa berdampak pada menurunnya minat untuk melakukan penelitian tindakan kelas di kelas

- Masih rendahnya dukungan Kebijakan pemerintah (pusat, provinsi dan kabupaten/kota)

- Masih rendahnya dukungan lembaga-lembaga pengelola pendidikan (depdiknas dan Depag, pimpinan sekolah) untuk meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan, khususnya dukungan melakuka
n aksi-aksi penelitian bagi guru/pengajar ooo


Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Coretan Pelajar Artikel Pendidikan

Abstract:

This essay aims to overlook the implementation of English curriculum document at primary school level currently used by the educational ministry. According to the document, English in the primary schools is only an optional subject as part of local contents. As the consequence, the curriculum development of English should follow the same guideline of others local contents curricula which strongly emphasize the students' needs as well as the interest of the community. The examination of the curriculum and its implementation shows the wide gap between the expectation and the reality. Therefore, both aspects need to be considered in order to find more realistic approaches.

Introduction

The latest curriculum in Indonesian primary schools known as the 2004 Curriculum Framework was developed after a dramatic change in the governmental system in 2001 from centralised to decentralised government. This decentralization program is also called regional autonomy (otonomi daerah). Thus, the release of the 2004 curriculum framework has given a wider autonomy to regional governments to determine their educational policies. In order to implement this autonomy, the current Indonesian education system has adopted the competency-based teaching approach (Kurikulum Berbasis Kompetensi). In regard to this approach, Schneck (1978) argued that "competence-based education has much in common with such approaches to learning as performance-based instruction, mastery learning and individualized instruction. It is outcome-based and is adaptive to the changing needs of students, teachers and community." (Scheck, 1978, p vi cited in Richards, 2001 p. ).

To illustrate how such changing needs have been accommodated and implemented in the 2004 curriculum framework, this essay aims to examine the curriculum of English in the Indonesian primary schools. It is important to note that the notion 'curriculum' stated in this essay refers to White's curriculum definition or what Nunan called as a plan as this term is currently used by the Educational ministry (see also White, 1988 and Nunan, 1988). This essay is organised into two sections. The first section focuses on the examination of the related documents of English curriculum particularly with respect to the target learners, teachers, the institution, the community and the society, and their needs and interests. The second section investigates the extent to which the implementation of this curriculum has met those criteria. In addition, this essay also evaluates the possible mismatch between the curriculum documents and the real needs and interests of the learners and the teachers as well as provides some suggestions concerning this issue.

What is in the document?

The establishment of English in Indonesian primary schools curriculum was marked by the release of the renewed curriculum popularly known as the 1994 Curriculum. In this curriculum framework, English was placed as one alternative subject as a part of two local content (Muatan Lokal) subjects that need to be taught in the primary schools. As it was optional, schools may decide either to include or exclude English in their subjects list. In 2004, the curriculum was reviewed again and this renewed curriculum was called the 2004 Curriculum Framework . In this new curriculum, English is once again being emphasised, but its position is still as a local content and non-compulsory.

As mandated by the legislation, the curriculum of local content subjects must be developed by the schools (school-based curriculum development) namely Curriculum at the Educational Institution Level (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan or KTSP). Furthermore, the formation of this curriculum requires the collaboration between, schools, regional government and local community and should meet regional characteristics, needs and conditions. In implementing this policy, the educational ministry has set seven basic principles (see table 1) as a guideline for schools to develop their local content curriculum.

English In Indonesian Primary Schools

Table 1. Principles of curriculum development

1. Centralised to the potency, development, needs and interests of the students and their environment.
2. Varied and interconnected.
3. Responsive to a rapid development of science, arts and technology.
4. Relevant to students' everyday lives.
5. Integral and continuing.
6. Lifelong learning.
7. Balance between national and regional interests.

Source: Depdiknas, 2007

It is clear from these basic principles that the students' interests and needs theoretically become the major considerations in the curriculum development. Moreover, beside these principles, the educational ministry also provides a more specific guideline to be used to assist the local institutions in developing their local contents curricula. This guideline includes several criteria to be considered concerning the target students, the teachers, the institution, the community and the society and also their needs and interests (see depdiknas, 2007).

In regard to the target learners, this guideline has set at least five criteria that need to be taken into consideration in developing the local content curriculum including (i) the used material should match with the level of development of students including their current knowledge and thinking ability and the students' emotional and social development level; (ii) the learning and teaching activities should be convenient and do not add any burden to the students, e.g. by avoiding the homework; (iii) the program should also consider the current physical and psychological aspects of the students ; (iv) the material to be taught also has to be meaningful and useful for students in their everyday lives; and (v) teachers also need to involve the participation of students through their mental, physical and social activities in order to be able to select the appropriate teaching and learning strategies. In other words, in developing local content curricula, schools need to consider students' current knowledge and development level, learning difficulties, age, learning resources, and learning strategies.

The guideline has also given a specific account on respect to the teachers' needs and interests. According to the guideline, teachers should be given a wide authority in the selection of teaching methodologies, teaching resources and materials.

The institutional interests are accommodated by the government policy to place English as one of local content subjects. The educational ministry had acknowledged that the schools' capacity to teach English varied from one school to another and also among regions. The educational ministry has also recognized that not all schools have the resources to teach English, especially relating to the availability of English teachers. Therefore, schools do not require to teach English if they do not have adequate resources for it. In addition, for schools that decided to include English as a part of two local content subjects to be taught in primary schools, the educational ministry has also given the guideline for its implementation (see depdiknas, 2007). According to the guideline, if a school is not able to develop its own local content curriculum, it might seek assistance from other schools in the same region that have successfully developed the curriculum. However, if there are no reference schools in that region, a school may ask assistance from the Curriculum Development Team (Tim Pengembang Kurikulum-TPK) in that region or province.

Furthermore, the needs and interests of the community have been clearly accommodated by looking at the definition of the local contents itself. The Department of National Education has defined local contents as "the program activity that aims to develop (students) competency based on the unique needs, interests, and strengths of local regions in which its substantial could not be classified into the existing subjects" (free translation from Depdiknas 2007). Hence, the local content subjects should highlight the needs and interest of local regions. The government intention to emphasize on the interests of local community is also revealed in the special objectives of local contents set by the Department of National Education, which are: (i) for students to become more familiar with their environment and also their socio-cultural background, (ii) for students to have knowledge, ability and skills about their regions that are relevant to their needs and interests and also the surrounding community, and (iii) for students to demonstrate their attitude and behavior that exhibit their cultural values, and preserve and develop these values to support national development. To conclude, the needs and interests of local community have become the central issue in the local content program.

English In Indonesian Primary Schools

What is in the reality?

By looking at the curriculum documents about local contents presented in the previous discussion, it is obvious that the central government has given a full support to promote educational decentralisation which underlined the needs and interests of students as well as local regions. But in its implementation, this policy is still far from perfect. The following discussion will highlight some constrains that might affect the level of success of the implementation of English as one of the local content subjects in Indonesian primary schools.

Had students-teachers' needs and interests become the top priority of the implementation of English in the primary schools program?

Before English in the primary schools introduced in 1994, in practice, many primary schools, especially private schools had started this program. The inclusion of English subject in these schools was more like an 'icon' or symbol. Thus, schools that run this program were considered to be having a high-status. After English was formally recognized as one optional subject in the local contents in the 1994 Curriculum and again was emphasised in the 2004 Curriculum, more and more schools including state schools have followed this trend. Consequently, according to Cahyono, the implementation of English in the primary schools is still like a 'fashion' or 'prestige' so that they can be identified as the best schools (Cahyono 2008 cited in Surya 2008). This phenomenon, in fact, is one of the social, cultural & political contexts identified in the English language teaching (see Bretag, 2005). Bretag stated that "English has become the language of power and prestige" (Bretag, 2005 p. 5). As a result, this phenomenon has overshadowed the importance of students' needs and interests which are supposed to be the central issue in running this program.

Moreover, the English teaching in the primary schools has even had negative effects for students as the English teachers in those primary schools were mostly unqualified. The truth is that before 94' curriculum was introduced, the institution that was responsible for teacher training, which is Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (Teachers Training Institute) was not intended to produce primary school teachers, but the main concern was to produce high school teachers (Chandra, 2002). Furthermore, she argued that, even for high school teachers, especially for English teachers, the training program was considered as inadequate. This problem had serious impacts on students motivation, as Cahyono commented that incompetent teachers had given bad experience for students to learn language as some of them might have become 'phobia' of foreign language (Cahyono 2008 cited in Surya 2008).

In the mean time, the intention of the educational ministry to give a wider authority to the teachers in the selection of teaching methodologies, teaching resources, and materials, and also to participate in the formation of English curriculum did not gain a great deal of interests either. Based on Sutardi's interview with twenty English teachers in five major cities in Indonesia, he concluded that although these English teachers agreed to have some flexibilities in organizing the teaching material by adapting the students' needs, the majority of them were preferred to have and refer the national curriculum (see Sutardi 2005). They expected that the availability of national curriculum could answer some of their difficulties in teaching English in the primary schools, particularly concerning the difficulty of obtaining teaching materials.

Is English really what the local community needs?

Looking back at the definition of local content which was "the program activity that aims to develop (students) competency based on the unique needs, interests, and the strength of local regions in which its substantial could not be classified into the existing subjects" (Depdiknas, 2007), one important question that need to be raised is "has English really fitted this criterion?" The answer is yes, but in only a small part of the region. It is difficult to find the reasons of learning English that is associated with local community needs other than for tourism industry. For this reason, only regions that get in touch with international community such as Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, and Medan that can be fit with this condition.

The next question is how about the other regions, do they need English? The answer could also be 'yes', but the community and students' desire to learn English in these regions could not fulfill the requirements of local content. In fact, all primary school students need to learn English if they want to compete equally with others in the globalisation era. Labeling English in the primary schools as a local content subject, in my opinion, has contributed to a wider education inequality, whereas the students who do not have the opportunity to learn English in their early age will be left behind from the others in their future education, as many scholars believed that age factor plays a major role in English acquisition (see e.g. Richards et al. 1987; Bialystok and Hakuta, 1999).

Evaluation

Based on the above discussion about the curriculum document of English in the primary schools and its implementation, there are several points that can be made:

(i) The curriculum document has shown the ideal aspects of educational decentralisation in regard to the regional autonomy, but its implementation has shown a serious breakdown of this policy. The major factor that contributed to the failure was the teacher factors. But, unfortunately, this issue did not receive sufficient attention in the current curriculum documents. Therefore it is important to provide more efforts concerning the teacher factors, and more importantly to include the procedures that support teachers' professional development through providing a training arrangement on the development of the curriculum, as the teachers' professionalism had become the central key affecting the breakdown. In addition to this, it is also critical to give more thought on providing more resources for the teachers in order to support the classroom teaching and learning.

(ii) Given the fact that learning English is vital for the preparation to face a global competition, all primary school students in all over the country share the same 'instrumental motivation' (For the discussion about the definition and types of motivation, see e.g. Dornyei, 2001). However, evaluating the current policy of the Indonesian government to place English as a local content subject was not relevant with both the students and community needs. Based on the current practice, only a small percentage of primary schools students had the opportunity to learn English. The disadvantages for the others who do not have this opportunity are huge, especially when they start the junior high school level where English becomes compulsory subject. For this reason, it is essential to consider English to become a compulsory subject in the primary schools in order to attain educational equality. Hence, despite a huge attention from the government to the students' interests as presented in current curriculum document, the students' motivation in learning English should be reconsidered.

(iii) The discussion also shows an enormous gap between the curriculum in the document and in the reality. In this regard, it is crucial to combine both aspects in the development of curriculum. Therefore, a further revision of the current document should take into account these two aspects.

References:

Bialystok, E. And Hakuta, K., 1999, "Confounded age: linguistic and cognitive factors in age differences for second language acquisition", In Birdsong, D. (ed.), Second language acquisition and critical period hypothesis, Lawrence Erlbaum associates, Publishers, New Jersey, pp. 161-81

Bretag, T. 2005, The social, cultural and political contexts of Teaching English to speakers of Other Languages, School of Management, Unisa

Chandra, A. 2002, Pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar, viewed 16 August 2008
Departemen Pendidikan Nasional/Depdiknas 2007, Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Depdiknas, Jakarta

Dornyei, Z. 2001, Teaching and researching motivation, Longman, Harlow

Nunan, D. 1988, Designing tasks for the communicative classroom. Cambridge, Cambridge University Press

Richards, J. C, 2001, Curriculum development in language teaching. Cambridge. Cambridge University Press

Richards, J.C., Plat, J., and Weber, H., 1987, Longman dictionary of applied linguistics, Longman Group, Hong Kong

Surya, 2008, Bahasa Inggris hanya muatan lokal, akibatkan siswa SD phobia

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget